Selasa, 20 Januari 2026

SILSILAH DIRI MENURUT BUDAYA JAWA LEWAT JALUR IBU

 0.  Nama Diri        ...............................................................  MARSUDI

1.   Nama Ibu         ...............................................................  SUKIRAH

2.    Eyang/Simbah/Embah/Kakek &Nenek...........................R. Supardi Harjoprawiro

3.    Simbah Buyut     .............................................................R. Wiryodimejo

4.    Embah Canggah  .............................................................R. Wiryoatmojo   

5.    Embah Wareng  ...............................................................R A  Mintoresmi

6.    Embah Udheg-udheg   .....................................................Gajah Sorengpati (Tirtosentiko II)

7.    Embah Gantungsiwur  .....................................................Tirtosentiko I

8.    Embah Gropak Senthe    ..................................................Kudhonowarso

9.    Embah Debog Bosok    ....................................................Demang Hadirejo II

10.  Embah Galih Asem        .................................................. Demang Hadirejo I

11.  Embah Gropak Waton    .................................................. Demang Tanponangkil II

12.  mBah Gandheng    ........................................................... Demang Tanponangkil I

13.  mBah Giyeng    ...............................................................  Sri Sultan Agung 

14.  mBah Cumpleng  ............................................................  Prabu Hanyokrowati

15.  mBah Ampleng    ............................................................  Panembahan Senopati

16.  mBah Manyaman    .........................................................   Ki Ageng Pemanahan

17.  mBah menya-menya  .......................................................   Ki Ageng Henis

18.  mBah Trah Tumerah  ...........................................................Ki Ageng Sela

  

Sabtu, 08 Juni 2024

Asal-usul

         Dalam khasanah budaya Jawa seringkali kita mendengar kalimat sangkan paraning dumadi yang terjemahan sederhananya adalah asal mula (dari mana) dan kemana akhir semua yang terjadi/terbentuk/tercipta (tentunya oleh Tuhan YME).

Umumnya kita manusia hanya mengenal asal muasal sesuatu (bisa kejadian, bisa benda/sosok orang, bisa kejadian dsb.) yang sudah ada/terjadi. Ada yang secara langsung melihat, ada pula yang tidak langsung, misalnya mendengar dari orang lain, membaca tulisan orang lain, lewat HP, radio, TV, atau yang lain.

Secara  pribadi kemungkinan para sidang pembaca setuju terhadap pendapat penulis bahwa kita ini sebenarnya tidak pernah tahu sama sekali oleh siapa, pada hari apa, tanggal berapa, jam berapa dan di mana kita dilahirkan..? Pertanyaan ini baru terjawab setelah kesadaran kita terbentuk, kita bisa mendengar, bisa membaca, bisa memahami apa yang kita tangkap lewat indera, membayangkan .....dst.                    
Padahal semua yang bisa kita tangkap itu tidak semuanya benar, bahkan ada yang semuanya salah...dan memang  sengaja dibuat begitu karena adanya suatu kekuatiran dari yang mengaku itu sebagai orang tua kita. Kisah semacam ini terdapat di mana-mana, ada yang nyata ada yang fiktif sesuai kebutuhannya masing-masing.
Penulis sendiri baru mengenal ayah (yang ada saat itu) setelah penulis berusia 11 tahun, dan itupun terjadi tanpa perencanaan sebelumnya. Bermula dari sakitnya kakek penulis yang terpaksa dibebas tugaskan ( di pensiun dinikan) dari jabatannya sebagai pengawas Pos di kota Situbondo, berikutnya karena merasa mempunyai tanah warisan di Magetan dari mendiang ayah sang kakek, maka beliau memilih pulang ke kampung halaman (ke Magetan). Sewaktu singgah di Madiun, di saat itulah penulis yang dijemput kakak, diantar ke tempat ayah yang sedang bertamu di rumah tempat kakak penulis berdomisili selaku anak kost. Di situlah pertama kalinya penulis mendengar bahwa ayah penulis bernama Roestamadji yang dulunya selalu penulis panggil "mas" (kakak).
Semisal kakek penulis tidak sampai sakit separah itu pasti jalan ceritanya lain lagi....
Dan mulai saat itu cerita tentang kehidupan masa kecil penulis menjadi semakin lengkap, penulis yakin semua cerita itu benar adanya. karena penulis beranggapan bahwa yang bercerita ini (ayah penulis) orangnya jujur dan tulus, apalagi beliau adalah seorang penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Kembali ke masalah asal-usul, dari cerita di atas jelas, pada saat itu penulis sendiri baru diperkenalkan dengan sosok ayah kemudian ibu (ibu tiri, karena ibu yang kandung sudah meninggal saat penulis berusia sekitar 1,5 tahun), 4 orang adik yang akhirnya berjumlah 9 (yang 3 orang meninggal dunia). Sampai menginjak dewasa penulis hanya mengenal sosok generasi di atas ayah dan ibu yaitu kakek dan nenek (orang tua) dari ibunda kandung, kakek nenek (orang tua) dari ibu tiri dan terakhir ayah dari ayah kandung. Yang terakhir ini hanya penulis kenal namanya.

Dalam Al-Kitab, penulis membaca adanya silsilah/keturunan dari Adam dan Eva (Hawa), silsilah Nuh, Abraham dan lainnya, apakah saat itu sudah ada tulisan/huruf/catatan...? Kalau silsilah raja-raja di Jawa bisa kita dapatkan dari buku-buku sejarah/babad masa lalu dan itu dipercaya karena sumbernya terpercaya.
Akhir-akhir ini juga ramai dibicarakan munculnya nama-nama yang bergelar (apa diberi gelar?) Habib yang katanya masih keturunan Nabi Muhammad SAW yang wafat sekitar 1400 tahun yang lalu. Hal semacam itu menunjukkan kepada kita bahwa mereka pasti punya data yang valid perihal silsilah (daftar keturunan) sejak Nabi Muhammad SAW sampai ke diri mereka masing-masing.

Dalam budaya Jawa sendiri kita kenal istilah penyebutan orang tua mulai dari ayah/ibu (1) kemudian kakek/nenek (2) lalu buyut (3), canggah (4), wareng (5) ...dst. sampai Trah tumerah (18). Sayangnya sangat jarang diantara kita yang mengenal nama apalagi kehidupan mereka para leluhur kita masing-masing karena kesibukan sehari-hari, bahkan menganggap hal tersebut sangat tidak penting. Karena abainya kita kepada garis keturunan/silsilah, akibatnya kita sangat tidak mengenal jati diri kita yang sebenarnya, kita tidak mengenal jelas siapa leluhur kita (yang harus kita muliakan lewat do'a dan perbuatan), sangat mudah dipecah belah akibat Ego yang dilandasi etnis/suku.

Dalam sejarah, kita membaca adanya sekelompok pendatang dari Yunan selatan sekitar 2000 tahun sebelum Masehi, jadi sekitar 4000 tahun yang lalu, dan mereka konon juga menjadi nenek moyang kita karena berbaur dengan masyarakat pribumi saat itu yang relatif jumlahnya masih sedikit. Kedatangan bangsa-bangsa penjajah ( Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris), hadirnya para pedagang dari negri-negri sekitar (India, Melayu, Tionghoa/Champa, Arab, dll), hadirnya para petualang, pelancong dsb dari berbagai negeri akibat kekayaan dan keindahan Nusantara sejak dahulu kala....., apakah diantara mereka tidak ada yang menetap berbaur dan kawin dengan pribumi yang akhirnya melahirkan keturunan di bumi kita ini...? Lalu siapakah mereka itu ? Dan siapakah kita ini...? Apakah masih pribumi asli atau.....?
Hal itu akan terbukti kalau sekarang dengan DNA. Apakah DNA tubuh kita mengandung DNA-DNA yang berbau asing atau murni pribumi asli. Alangkah baiknya jika perihal keturunan itu juga didukung oleh data otentik berupa silsilah atau garis keturunan yang meyakinkan.

Penulis sendiri setelah menelusuri melalui silsilah dan memperhatikan warna kulit, kecenderungan selera, karakter yang dimiliki, bakat yang tumbuh, agaknya menyimpulkan bahwa gen-gen yang mendukung terbentuknya fisik, mental, dan spiritual penulis berasal tidak dari satu arah saja tapi dari banyak arah.....percaya atau tidak terserah....kesimpulannya semuanya kita (dari suku apa saja) adalah bersaudara.